Berkah MBG bagi Peternak Kecil di Sungai Pinyuh: Limbah SPPG Jadi Penopang Pakan Ayam Kampung

SUNGAI PINYUH-Di balik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang setiap hari dinikmati anak-anak sekolah, tersimpan cerita sederhana tentang manfaat yang ikut dirasakan masyarakat kecil. Salah satunya datang dari Desa Sungai Bakau, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah.

Adalah Sutikno Wibowo, seorang peternak ayam kampung yang sehari-harinya menggantungkan hidup dari puluhan ekor ternak miliknya. Belakangan ini, pria yang akrab disapa Tikno itu rutin mendatangi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sungai Pinyuh III di Jalan Jurusan Anjungan, Kelurahan Sungai Pinyuh.

Dengan izin pihak SPPG, Tikno memanfaatkan limbah makanan dari SPPG seperti nasi, sayuran, hingga potongan buah-buahan yang tidak habis dikonsumsi untuk dijadikan tambahan pakan ternaknya.

SUTIKNO Peternak Ayam Kampung

“Kadang hanya ada sisa sayur dan buah, kadang ada juga nasi. Kalau nasinya sedikit berarti anak-anak makannya lahap,” ujar Tikno sambil tersenyum.

Bagi Tikno, limbah makanan tersebut bukan sekadar limbah dapur SPPG. Di tangannya, limbah  berubah menjadi penopang kebutuhan pakan ayam kampung yang selama ini cukup menguras biaya harian.

Sebelum adanya MBG, ia mengaku harus membeli 3 hingga 4 kilogram pakan tambahan setiap hari berupa jagung, dedak, maupun ubi kayu. Kini, kebutuhan itu berkurang cukup signifikan.

“Sekarang paling hanya tambah beli sekitar satu kilogram saja. Lumayan bisa hemat 2 sampai 3 kilogram pakan per hari,” katanya.

Penghematan itu terasa berarti bagi peternak kecil seperti dirinya. Menurut Tikno, berkurangnya biaya pakan membuat hasil penjualan ayam menjadi lebih terasa dan dapat membantu kebutuhan rumah tangga.

Ia juga menilai limbah makanan yang dimanfaatkan sebagai tambahan pakan membantu pertumbuhan ayam menjadi lebih cepat. Dengan begitu, masa pemeliharaan dapat dipersingkat sebelum ayam dijual ke pasar.

“Ayam kampung sekarang sekitar Rp50 ribu per kilogram. Kalau biaya pakan bisa ditekan, hasil jual tentu lebih bersih. Saya sangat terbantu dengan adanya MBG ini,” ungkapnya.

Di sisi lain, pihak SPPG tetap menempatkan pemenuhan gizi anak-anak sebagai prioritas utama. Limbah  yang dimanfaatkan Tikno merupakan bagian yang memang tidak habis dikonsumsi dan telah dipisahkan sebelumnya.

Cerita Tikno menjadi gambaran kecil bagaimana sebuah program sosial tidak hanya berdampak pada penerima utama, tetapi juga memberi efek ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dari limbah yang sederhana, ada harapan dan penghematan yang membantu roda kehidupan peternak kecil terus berjalan.

“Semoga program MBG terus berlanjut. Terimakasih untuk semua pihak yang sudah membantu masyarakat kecil seperti kami,” tutup Tikno. (dek)

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Berkah MBG bagi Peternak Kecil di Sungai Pinyuh: Limbah SPPG Jadi Penopang Pakan Ayam Kampung
  • Berkah MBG bagi Peternak Kecil di Sungai Pinyuh: Limbah SPPG Jadi Penopang Pakan Ayam Kampung
  • Berkah MBG bagi Peternak Kecil di Sungai Pinyuh: Limbah SPPG Jadi Penopang Pakan Ayam Kampung
  • Berkah MBG bagi Peternak Kecil di Sungai Pinyuh: Limbah SPPG Jadi Penopang Pakan Ayam Kampung
  • Berkah MBG bagi Peternak Kecil di Sungai Pinyuh: Limbah SPPG Jadi Penopang Pakan Ayam Kampung
  • Berkah MBG bagi Peternak Kecil di Sungai Pinyuh: Limbah SPPG Jadi Penopang Pakan Ayam Kampung